I thought this matter for very long time now.
I asked my friends, seniors, and fellow teachers.
They had different views about this matter.
Suddenly, today, this evening, after celebrating my friends' birthday
this topic came out in our conversation.
Sorry to my friend for making him angry talking about this.
I didn't mean that.
But, it's interesting to talk about this matter.
And also I want to know your opinion about this matter:
"What is more important the process or the outcome?"
You can talk about your mark/grade/title/degree or whatever.
OK to help you, let's just focus on our grade/mark, especially for NTU's student.
We know that in our graduation we will get honour, whether 1st class, 2nd upper, 2nd lower, 3rd class, or pass with merit.
Do you think this is more important than your four years study in university?
What do you look, good honour or good process?
In my honest opinion, I do agree that process is above the mark, although mark is also important.
Having good process will and will not result in good mark.
However it ensures that we had good knowledge and information about the subject.
Mark is not the first and only measurement to decide the understanding of the student.
Especially your mark is mostly affected by 2,5 hours paper at examination hall.
There could be a lot of things happen during the exam that make the student not perform well.
For example, having stomachache will disturb your concentration.
Or you are so nervous so you forget how to solve the problem, make stupid mistake due to not be careful in answering the question.
The student also have feeling of burden because the exam will surely make you grade.
Is it fair to judge the student only in the 2,5 hours?
How about their process during the one semester?
Don't they have other chance?
Just because they fail in the exam, their grade will certainly go down.
But, we can't blind about the mark/grade.
It's also important.
That's our first impression to the company so that they call us for interview.
My friend told me before what the mark/grade meant for company or interviewer.
The manager of a finance company told him that mark/grade expressed your seriousness in study.
Having good mark/grade means you are very serious in study and will be also the same in working.
But I argued that how come he told from the mark/grade.
I know for sure (well from my experience) that sometimes even though I have put much effort on one subject, at the end I just got "enough" mark.
What is the standard of the "seriousness"? Is it A+, A, or A-?
How about the other grade, B, B+, B-?
Don't they who didn't get A put less effort than them who got A?
Unfortunately the company see the mark/grade first before your personality.
Well at least to get interview, you need to get at least 2nd lower.
That's the reality of workplace.
That's the fact about the world now.
To get in first you must have good mark/grade because with that they believe you have good knowledge and ability for the company.
Good mark/grade means you are cleverer than others. In this competition era you need to differentiate and good mark/grade is how you differ from others.
After that your interview will decide everything.
You need to show all your ability and persuade the interviewer that you're capable for the job.
So is your mark or your process more important?
Well it's up to you to decide.
I want to know your opinion.
In life truly marks are not important.
It's your skills and abilities which will make you be a successful person.
But in order to get in you must make the first good impression with good mark/grade.
Having good process will or will not lead you to good outcome.
But learning and knowing how to make the good outcome surely add your skill.
Is the experience the good teacher, isn't it?
What will we follow, the ideal world or the real world?
I know for sure we live in the real world which sometimes doesn't follow the ideal one.
Now it's time for you to speak up.
Showing posts with label society. Show all posts
Showing posts with label society. Show all posts
Monday, May 11, 2009
Emansipasi, Wanita=Pria?
"Ibu kita Kartini, putri sejati
putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
putri yang mulia
sungguh besar cita-citanya
bagi Indonesia"
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini.
Hari kartini memperingati kelahiran Raden Ayu Kartini, salah satu "wonder women" Indonesia.
Kontribusinya sangat besr bagi kemajuan penyetaraan gender.
Siapa yang tidak kenal Beliau.
Masih ingat dulu waktu SD, tanggal 21 April diadakan upacara bendera.
Setiap siswa diminta untuk memakai baju daerah dan foto Kartini dipampang di tengah lapangan.
Lomba-lomba dan pagelaran seni juga ikut memeriahkan hari jadi Beliau.
Terus-menerus diingatkan bahwa Kartini adalah pencetus emansipasi wanita di Indonesia.
Wanita kedudukanya sama dengan pria. Mereka setara dengan kita, kaum pria.
Dari tahun 1879 (tahun kelahiran Kartini) sampai 2009 banyak perubahan terjadi di Indonesia.
Kaum wanita juga mulai unjuk gigi di ranah umum.
Prestasi yang membanggakan mungkin adalah ketika Ibu Megawati menjadi presiden wanita pertama.
Walau sebelumnya dia diganjal dan tidak dibolehkan menjadi presiden karena masalah gender.
Apakah ini menandakan Indonesia sudah benar-benar terbuka bagi kaum wanita?
Apakah kedudukan mereka sudah setara dengan kaum laki-laki?
Apakah wanita sama dengan laki-laki?
Opini pribadi saya, Indonesia masih belajar menghargai wanita.
Memang benar sudah banyak kaum wanita yang "go public", tetapi banyak juga kaum wanita yang masih ditekan oleh kaum adam.
Ambil contoh TKI, PSK, pembantu rumah tangga.
Masih banyak TKI kita yang mungkin akan mendapat kemalangan di negri orang ditipu oleh orang sendiri.
Jauh menjadi TKI, mereka malah dijual menjadi penghibur dan pemuas nafsu laki-laki.
Dengan iming-iming gaji besar, mereka dibawa ke kota besar dari desa untuk dididik oleh "mami".
Miris melihat wanita bercita-cita untuk sekolah tinggi, tetapi harus putus sekolah karena masalah ekonomi dan gender.
Masih banyak generasi lama yang menganut laki-laki harus maju lebih dahulu dari perempuan.
Saya teringat pernyataan Ibu Megawati ketika berjumpa dengan ibu-ibu di sebuah pasar di Jawa:
"Mana yang dipilih untuk disekolahkan, anak laki-laki yang biasa-biasa saja atau anak perempuan yang lebih pintar? Tentu saja anak laki-laki toh?"
Sekali lagi, masalah ekonomi menjadi penghalang bagi emansipasi
Sama seperti kaum Tionghoa, anak laki-laki adalah putra mahkota di keluarga.
Mengapa tidak, mereka yang akan meneruskan nama keluarga.
Ketika menikah wanita diwajibkan untuk mengikuti nama keluarga suami.
Hal yang wajar bagi masyarakat dengan sistem patrealisme.
Jadi, lebih untung menginvestasikan dana ke anak laki-laki daripada perempuan.
Toh akhirnya anak perempuan akan diambil oelh keluarga orang.
Masyarakat tidak mungkin berubah pandangan dalam waktu semalam.
Semua ini membutuhkan proses yang panjang dan pasti akan menghadapai kendala.
Tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun penyetaraan gender masih menjadi masalah.
Tetapi, adanya usaha dan perjuangan tanpa henti untuk mengusahakan penyetaraan gender sudah baik.
Perlunya penekanan akan kesadaran pria dan wanita kedudukannya sama dan diciptakan untuk saling melengkapi bukan saling menjajah atau menguasai.
Jadi, tidak benar bila pria menjajah perempuan.
Lebih tidak benar lagi wanita menjajah pria.
Istilah suami takut istri dan istri takut suamin seharusnya tidak ada di kamus kita.
Perlu diingatkan wanita tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan pria.
Adanya rasa saling mengerti dan menghormati adalah mutlak dalam hubungan pria dan wanita.
Memang benar sekarang wanita bisa melakukan pekerjaan pria dan sebaliknya, tetapi fungsi utama dan pertama setiap gender tidak akan bisa digantikan.
Wanita tidak akan pernah bisa menhasilkan sperma untuk membuahi ovum.
Laki-laki tidak akan pernah bisa melahairkan tanpa ovarium dan kelenjar susu.
Wanita diciptkan dari tulang rusuk laki-laki,
bukan dari tulang tengkorak untuk memerintah laki-laki
bukan dari tulang kaki untuk menjadi budak laki-laki.
Wanita diciptakan sejajar dengan pria agar kita saling menhormati dan menghargai serta melengkapi satu sama lain.
Happy Katini's Day 2009
putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
putri yang mulia
sungguh besar cita-citanya
bagi Indonesia"
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini.
Hari kartini memperingati kelahiran Raden Ayu Kartini, salah satu "wonder women" Indonesia.
Kontribusinya sangat besr bagi kemajuan penyetaraan gender.
Siapa yang tidak kenal Beliau.
Masih ingat dulu waktu SD, tanggal 21 April diadakan upacara bendera.
Setiap siswa diminta untuk memakai baju daerah dan foto Kartini dipampang di tengah lapangan.
Lomba-lomba dan pagelaran seni juga ikut memeriahkan hari jadi Beliau.
Terus-menerus diingatkan bahwa Kartini adalah pencetus emansipasi wanita di Indonesia.
Wanita kedudukanya sama dengan pria. Mereka setara dengan kita, kaum pria.
Dari tahun 1879 (tahun kelahiran Kartini) sampai 2009 banyak perubahan terjadi di Indonesia.
Kaum wanita juga mulai unjuk gigi di ranah umum.
Prestasi yang membanggakan mungkin adalah ketika Ibu Megawati menjadi presiden wanita pertama.
Walau sebelumnya dia diganjal dan tidak dibolehkan menjadi presiden karena masalah gender.
Apakah ini menandakan Indonesia sudah benar-benar terbuka bagi kaum wanita?
Apakah kedudukan mereka sudah setara dengan kaum laki-laki?
Apakah wanita sama dengan laki-laki?
Opini pribadi saya, Indonesia masih belajar menghargai wanita.
Memang benar sudah banyak kaum wanita yang "go public", tetapi banyak juga kaum wanita yang masih ditekan oleh kaum adam.
Ambil contoh TKI, PSK, pembantu rumah tangga.
Masih banyak TKI kita yang mungkin akan mendapat kemalangan di negri orang ditipu oleh orang sendiri.
Jauh menjadi TKI, mereka malah dijual menjadi penghibur dan pemuas nafsu laki-laki.
Dengan iming-iming gaji besar, mereka dibawa ke kota besar dari desa untuk dididik oleh "mami".
Miris melihat wanita bercita-cita untuk sekolah tinggi, tetapi harus putus sekolah karena masalah ekonomi dan gender.
Masih banyak generasi lama yang menganut laki-laki harus maju lebih dahulu dari perempuan.
Saya teringat pernyataan Ibu Megawati ketika berjumpa dengan ibu-ibu di sebuah pasar di Jawa:
"Mana yang dipilih untuk disekolahkan, anak laki-laki yang biasa-biasa saja atau anak perempuan yang lebih pintar? Tentu saja anak laki-laki toh?"
Sekali lagi, masalah ekonomi menjadi penghalang bagi emansipasi
Sama seperti kaum Tionghoa, anak laki-laki adalah putra mahkota di keluarga.
Mengapa tidak, mereka yang akan meneruskan nama keluarga.
Ketika menikah wanita diwajibkan untuk mengikuti nama keluarga suami.
Hal yang wajar bagi masyarakat dengan sistem patrealisme.
Jadi, lebih untung menginvestasikan dana ke anak laki-laki daripada perempuan.
Toh akhirnya anak perempuan akan diambil oelh keluarga orang.
Masyarakat tidak mungkin berubah pandangan dalam waktu semalam.
Semua ini membutuhkan proses yang panjang dan pasti akan menghadapai kendala.
Tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun penyetaraan gender masih menjadi masalah.
Tetapi, adanya usaha dan perjuangan tanpa henti untuk mengusahakan penyetaraan gender sudah baik.
Perlunya penekanan akan kesadaran pria dan wanita kedudukannya sama dan diciptakan untuk saling melengkapi bukan saling menjajah atau menguasai.
Jadi, tidak benar bila pria menjajah perempuan.
Lebih tidak benar lagi wanita menjajah pria.
Istilah suami takut istri dan istri takut suamin seharusnya tidak ada di kamus kita.
Perlu diingatkan wanita tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan pria.
Adanya rasa saling mengerti dan menghormati adalah mutlak dalam hubungan pria dan wanita.
Memang benar sekarang wanita bisa melakukan pekerjaan pria dan sebaliknya, tetapi fungsi utama dan pertama setiap gender tidak akan bisa digantikan.
Wanita tidak akan pernah bisa menhasilkan sperma untuk membuahi ovum.
Laki-laki tidak akan pernah bisa melahairkan tanpa ovarium dan kelenjar susu.
Wanita diciptkan dari tulang rusuk laki-laki,
bukan dari tulang tengkorak untuk memerintah laki-laki
bukan dari tulang kaki untuk menjadi budak laki-laki.
Wanita diciptakan sejajar dengan pria agar kita saling menhormati dan menghargai serta melengkapi satu sama lain.
Happy Katini's Day 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)